Sabtu, 31 Mei 2014

tugas softskill ke3

NAMA ANGGOTA KELOMPOK  :
  • RISKA NUARI (26210035)
  • VISCA FEBRINA (28210396)
  • CITRA DIANA (21210608)
  • NUR SUSILAWATI (29210584)
  • SELVIA SARI (26210437)
Kelas  : 4 EB 23
TUGAS SOFTSKILL AKUNTANSI INTERNASIONAL#

ASEAN – CHINA FREE TRADE AREA

Artikel ke-1
Cina merupakan salah satu kekuatan utama ekonomi dunia, dan bersama dengan dua negara Asia Timur lainnya yaitu Jepang dan Korea Selatan telah menjadi mitra dagang terpenting Indonesia dan juga ASEAN dari tahun ke tahun. Untuk meningkatkan hubungan perdagangan dengan Cina, ASEAN, di mana Indonesia menjadi salah satu anggota-telah menyepakati kerjasama perdagangan bebas dalam kerangka ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA). Dalam kerangka perjanjian tersebut, negara-negara yang menjadi anggota perjanjian saling memberikan preferential treatment di tiga sektor: sektor barang, jasa dan investasi dengan tujuan memacu percepatan aliran barang, jasa dan investasi diantara negara-negara anggota sehingga dapat terbentuk suatu kawasan perdagangan bebas. Preferential treatment adalah perlakuan khusus yang lebih menguntungkan dibandingkan perlakuan yang diberikan kepada negara mitra dagang lain non anggota pada umumnya. Dalam kesepakatan di sektor barang, komponen utamanya adalah preferential tarif.
Proses menuju kesepakatan perjanjian ACFTA diawali dengan dilakukannya pertemuan tingkat kepala negara antara negara-negara ASEAN dan Cina di Bandar Seri Begawan, Brunei pada tanggal 6 Nopember 2001 yang kemudian disahkan melalui penandatanganan “Persetujuan Kerangka Kerja mengenai Kerjasama Ekonomi Menyeluruh antara Negara-negara Anggota ASEAN dan Republik Rakyat Cina” di Phnom Penh, Kamboja pada tanggal 4 Nopember 2002. Perjanjian di sektor barang menjadi bentuk konkrit kerjasama ekonomi pertama di pihak ASEAN dan Cina, yang ditandai dengan ditandatanganinya kesepakatan Trade in Goods Agreement dan Dispute Settlement Mechanism Agreement pada tanggal 29 November 2004 di Vientiane, Laos.
Data statistik perdagangan (IMF, 2012) menunjukkan bahwa Indonesia selaku negara anggota ASEAN dengan populasi dan pasar terbesar memiliki hubungan perdagangan yang erat dengan Cina, terlebih setelah berlakunya kesepakatan perdagangan ASEAN-China FTA. Cina merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia setelah ASEAN. Total nilai perdagangan Indonesia dan Cina mencapai US$ 36,2 miliar (2010) dan jumlah tersebut merupakan 12,4% dari total perdagangan Indonesia. Sementara itu, nilai perdagangan antara kedua negara selama periode 2006-2010 mencatat pertumbuhan positif rata-rata sebesar 30%.
Ekspor Indonesia ke Cina mencapai US$ 15,6 miliar (fob) dan impor Indonesia dari Cina mencapai US$ 20,6 miliar (cif), sehingga surplus perdagangan dimiliki Cina sebesar kurang lebih US$ 5 miliar. Angka defisit tersebut meningkat sebesar US$ 2,9 miliar dibandingkan defisit tahun 2009 yang tercatat sebesar US$ 2,2 miliar, sehingga menimbulkan kepanikan banyak pihak di Indonesia yang kemudian menyampaikan desakan kepada pemerintah untuk melakukan renegosiasi dengan Cina.
Untuk mengevaluasi dampak ACFTA, perlu dilakukan evaluasi atau impact assessment terhadap perjanjian perdagangan barang ACFTA mengingat implementasinya telah berjalan lebih dari lima tahun (Kompas, 2011). Penilaian dampak suatu FTA perlu dilakukan untuk mengetahui apakah tujuan suatu FTA dapat dipenuhi (Plummer, Cheong dan Hamanaka, 2010).
Salah satu indikator penting untuk menilai dampak suatu FTA adalah pendapatan nasional. Pendapatan nasional merupakan salah satu dari tiga indikator untuk menghitung dampak dari suatu FTA terhadap suatu negara dari aktivitasnya dalam perdagangan internasional (Llyoid dan Mclaren, 2004: 451). Sementara itu, salah satu komponen pendapatan nasional dalam model Keynesian empat sektor adalah kontribusi ekspor. Perubahan kontribusi ekspor terhadap pendapatan nasional Indonesia dan Cina dalam konteks berlaku efektifnya perjanjian perdagangan barang ACFTA dapat mengindikasikan dampak dari ACFTA terhadap kedua negara.
Tulisan ini bertujuan untuk mengukur dan menganalisis pengaruh atau dampak dari keikutsertaan Indonesia dan Cina dalam perjanjian perdagangan barang ASEAN-China FTA (ACFTA) dari sisi kontribusi ekspor dan peningkatan pertumbuhannya. Indikator dampak secara makro tersebut menjadi penting, mengingat kontribusi ekspor akan berdampak terhadap kesejahteraan ekonomi suatu negara. Pendekatan kuantitatif dengan ekonometrika digunakan untuk mengukur nilai dari dampak dari suatu FTA.

Artikel ke-2

A. PENDAHULUAN
ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) merupakan kesepakatan antara negaranegara anggota ASEAN dengan China untuk mewujudkan kawasan perdagangan bebas dengan menghilangkan atau mengurangi hambatan-hambatan perdagangan barang baik tarif ataupun non tarif, peningkatan akses pasar jasa, peraturan dan ketentuan investasi, sekaligus peningkatan aspek kerjasama ekonomi untuk mendorong hubungan perekonomian para Pihak ACFTA dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat ASEAN dan China.

B. LANDASAN HUKUM
Dalam membentuk ACFTA, para Kepala Negara Anggota ASEAN dan China telah menandatangani ASEAN - China Comprehensive Economic Cooperation pada tanggal 6 Nopember 2001 di Bandar Sri Begawan, Brunei Darussalam. Sebagai titik awal proses pembentukan ACFTA para Kepala Negara kedua pihak menandatangani Framework Agreement on Comprehensive Economic Cooperation between the ASEAN and People’s Republic of China di Phnom Penh, Kamboja pada tanggal 4 Nopember 2002. Protokol perubahan Framework Agreement ditandatangani pada tanggal 6 Oktober 2003, di Bali, Indonesia. Protokol perubahan kedua Framework Agreement ditandatangani pada tanggal 8 Desember 2006. Indonesia telah meratifikasi Ratifikasi Framework Agreement ASEAN-China FTA melalui Keputusan Presiden Nomor 48 Tahun 2004 tanggal 15 Juni 2004. Setelah negosiasi tuntas, secara formal ACFTA pertama kali diluncurkan sejak ditandatanganinya Trade in Goods Agreement dan Dispute Settlement Mechanism Agreement pada tanggal 29 November 2004 di Vientiane, Laos. Persetujuan Jasa ACFTA ditandatangani pada pertemuan ke-12 KTT ASEAN di Cebu, Filipina, pada bulan Januari 2007. Sedangkan Persetujuan Investasi ASEAN China ditandatangani pada saat pertemuan ke-41 Tingkat Menteri Ekonomi ASEAN tanggal 15 Agustus 2009 di Bangkok, Thailand. Peraturan Nasional terkait ACFTA
·      Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 48 Tahun 2004 tanggal 15 Juni 2004 tentang Pengesahan Framework Agreement on Comprehensive Economic Cooperation between the Associaton of Southeast Asean Antions and the People’s Republic of China.
·      Keputusan Menteri Keuangan Republi Indonesia Nomor 355/KMK.01/2004 tanggal 21 Juli 2004 tentang Penetapan Tarif Bea Masuk atas Impor Barang dalam rangka Early Harvest Package ASEAN-China Free Trade Area.
·       Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 57/PMK.010/2005 tanggal 7 Juli 2005 tentang Penetapan Tarif Bea Masuk dalam rangka Normal Track ASEANChina Free Trade Area.
·      Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 21/PMK.010/2006 tanggal 15 Maret 2006 tentang Penetapan Tarif Bea Masuk dalam rangka Normal Track ASEAN-China Free Trade Area.
·       Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 04/PMK.011/2007 tanggal 25 Januari 2007 tentang Perpanjangan Penetapan Tarif Bea Masuk dalam rangka Normal Track ASEAN-China Free Trade Area.
·       Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 53/PMK.011/2007 tanggal 22 Mei 2007 tentang Penetapan Tarif Bea Masuk dalam rangka ASEAN-China Free Trade Area.
·      Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 235/PMK.011/2008 tanggal 23 Desember 2008 tentang Penetapan Tarif Bea Masuk dalam rangka ASEAN-China Free Trade Area.
C. TUJUAN ASEAN-CHINA FTA
  • Memperkuat dan meningkatkan kerjasama ekonomi, perdagangan, dan investasi antara negara-negara anggota.
  •  Meliberalisasi secara progresif dan meningkatkan perdagangan barang dan jasa serta menciptakan suatu sistem yang transparan dan untuk mempermudah investasi.
  •  Menggali bidang-bidang kerjasama yang baru dan mengembangkan kebijaksanaan yang tepat dalam rangka kerjasama ekonomi antara negara-negara anggota.
  • Memfasilitasi integrasi ekonomi yang lebih efektif dari para anggota ASEAN baru (Cambodia, Laos, Myanmar, dan Vietnam –CLMV) dan menjembatani kesenjangan pembangunan ekonomi diantara negara-negara anggota.
D. PELUANG
  • Meningkatnya akses pasar ekspor ke China dengan tingkat tarif yang lebih rendah bagi produk-produk nasional.
  • Meningkatkanya kerjasama antara pelaku bisnis di kedua negara melalui pembentukan “Aliansi Strategis”.
  •  Meningkatnya akses pasar jasa di China bagi penyedia jasa nasional
  • Meningkatnya arus investasi asing asal China ke Indonesia
  • Terbukanya transfer teknologi antara pelaku bisnis di kedua negara.
E. MANFAAT
·      Terbukanya akses pasar produk pertanian (Chapter 01 s/d 08 menjadi 0%) Indonesia ke China pada tahun 2004.
·      Terbukanya akses pasar ekspor Indonesia ke China pada tahun 2005 yang mendapatkan tambahan 40% dari Normal Track (± 1880 pos tarif), yang diturunkan tingkat tarifnya menjadi 0-5%.
·      Terbukanya akses pasar ekspor Indonesia ke China pada tahun 2007 yang mendapatkan tambahan 20% dari Normal Track (± 940 pos tarif), yang diturunkan tingkat tarifnya menjadi 0-5%.
·       Pada tahun 2010, Indonesia akan memperoleh tambahan akses pasar ekspor ke China sebagai akibat penghapusan seluruh pos tarif dalam Normal Track China.
·       Sampai dengan tahun 2010 Indonesia akan menghapuskan 93,39% pos tarif (6.683 pos tarif dari total 7.156 pos tarif yang berada di Normal Track ), dan 100% padatahun 2012.
F. TANTANGAN
·      Indonesia harus dapat meningkatkan efisiensi dan efektifitas produksi sehingga dapat bersaing dengan produk-produk China.
·       Menciptakan iklim usaha yang kondusif dalam rangka meningkatkan daya saing.
·       Menerapkan ketentuan dan peraturan investasi yang transpara, efisien dan ramah dunia usaha.
·       Meningkatkan kemampuan dalam penguasaan teknologi informasi dan komunikasi termasuk promosi pemasaran dan lobby.
G. PERSETUJUAN PERDAGANGAN BARANG
Dalam ACFTA disepakati akan dilaksanakan liberalisasi penuh pada tahun 2010 bagi ASEAN 6 dan China, serta tahun 2015 untuk serta Kamboja, Laos, Vietnam, dan Myanmar. Penurunan Tarif dalam kerangka kerjasama ACFTA dilaksanakan dalam tiga tahap, yaitu:
  1. Early Harvest Program (EHP)
  • Produk-produk dalam EHP antara lain:
Chapter 01 s.d 08 : Binatang hidup, ikan, dairy products, tumbuhan, sayuran, dan buah-buahan (SK Menkeu No 355/KMK.01/2004 tanggal 21 Juli 2004 Tentang Penetapan Tarif Bea Masuk atas Impor Barang dalam kerangka EHP ACFTA). Kesepakatan Bilateral (Produk Spesifik) antara lain kopi, minyak kelapa/CPO, Coklat, Barang dari karet, dan perabotan (SK Menkeu No 356/KMK.01/2004 tanggal 21 juli 2004 Tentang Penetapan Tarif Bea Masuk atas Impor Barang Dalam Kerangka EHP Bilateral Indonesia-China FTA.
  • Penurunan tarif dimulai 1 Januari 2004 secara bertahap dan akan menjadi 0% pada 1 Januari 2006.
  1. Normal Track
  • Threshold :
40% at 0-5% in 2005
100% at 0% in 2010 (Tariff on some products, no more than 150 tariff lines will be eliminated by 2012)
  • Jumlah NT II Indonesia adalah sebesar 263 pos tarif (6 digit)
  • Legal enactment NT untuk tahun 2009 s.d 2012 telah ditetapkan melalui SK. MEN-KEU No. 235/PMK.011/2008 tanggal 23 Desember 2008 Tentang Penetapan Tarif Bea Masuk Dalam Rangka ACFTA.
  1. Sensitive Track
·      Sensitive List (SL) :
a)     Tahun 2012 = 20%
b)    Pengurangan menjadi 0-5% pada tahun 2018.
c)     Produk sebesar 304 Produk (HS 6 digit) antara lain Barang Jadi Kulit : tas, dompet; Alas kaki : Sepatu sport, Casual, Kulit; Kacamata; Alat Musik; Tiup, petik, gesek; Mainan: Boneka; Alat Olah Raga; Alat Tulis; Besi dan Baja; Spare part; Alat angkut; Glokasida dan Alkaloid Nabati; Senyawa Organik; Antibiotik; Kaca; Barang-barang Plastik
·      Highly Sensitive List (HSL)
a)     Tahun 2015 = 50%
b)    Produk HSL adalah sebesar 47 Produk (HS 6 digit), yang antara lain terdiri dari Produk Pertanian, seperti Beras, Gula, Jagung dan Kedelai; Produk Industri Tekstil dan produk Tekstil (ITPT); Produk Otomotif; Produk Ceramic Tableware.
H. KETENTUAN ASAL BARANG
Rules of Origin didefinisikan sebagai kriteria yang digunakan untuk menentukan status asal barang dalam perdagangan internasional. Dalam konteks ACFTA, mereka menjamin bahwa hanya produk-produk yang memenuhi persyaratan Rules of Origin dibawah ACFTA yang dapat memperoleh kelonggaran tarif. ASEAN dan China telah sepakat terhadap kriteria kandungan materi barang yang termasuk dalam ROO yaitu jika seluruhnya mengandung materi dari suatu Negara anggota atau paling sedikit 40% kandungan materi berasal dari negara anggota. Para negara anggota ACFTA saat ini sedang menegosiasikan kemungkinan peraturan produk spesifik lainnya seperti adopsi proses CEPT tekstil terhadap ROO ACFTA

I. PENYELESAIAN SENGKETA
Perselisihan atau sengketa dagang antar pelaku usaha dalam ACFTA dapat diselesaikan melalui perjanjian Disputes Settlement Mechanism (DSM) ACFTA. Perjanjian ini bertujuan untuk memberikan kepastian dalam penyelesaiaan sengketa dagang dengan prinsip kesamaan (equitable), cepat, dan efektif. Persetujuan DSM ini ditandatangani oleh para Menteri Ekonomi ASEAN dan China dalam pertemuan ke-10 KTT ASEAN pada bulan Nopember 2004 di Laos.

J. PERSETUJUAN PERDAGANGAN JASA
Persetujuan Jasa ACFTA telah berlaku efektif sejak Juli 2007. Dengan adanya Persetujuan ini para penyedia jasa dikedua wilayah akan mendapatkan manfaat perluasan akses pasar jasa sekaligus national treatment untuk sektor dan subsector yang dikomitmenkan oleh masing-masing Pihak ACFTA. Paket Pertama Persetujuan Jasa ACFTA mencakup kurang lebih 60 subsektor tambahan dari komitmen para Pihak di GATS/WTO. Dari sudut pandang tingkat ambisi liberalisasi, Paket Pertama tersebut mencerminkan tingkat komitmen yang cukup tinggi dari seluruh 4 moda penyediaan jasa baik cross-border supply, consumption abroad, commercial presence, dan movement of natural persons. Disamping memberikan manfaat dari meningkatnya arus perdagangan jasa antara kedua wilayah, Persetujuan Jasa diharapkan akan mendorong peningkatan investasi khususnya pada sektor-sektor yang telah dikomitmenkan oleh para Pihak seperti:
(a) business services such as computer related services, real estate services, market research, management consulting; (b) construction and engineering related services; (c) tourism and travel related services; (d) transport services; educational services; (e) telecommunication services; (f) health-related and social services; (g) recreational, cultural and sporting services; (h) environmental services; dan (i) energy services.

K. PERSETUJUAN INVESTASI
Melalui Persetujuan Investasi tersebut, pemerintah Negara-negara Anggota ASEAN dan China secara kolektif sepakat untuk mendorong peningkatan fasilitasi, transparansi dan rezim investasi yang kompetitif dengan menciptakan kondisi investasi yang positif, disertai berbagai upaya untuk mendorong promosi arus investasi dan kerjasama bidang investasi. Disamping itu kedua pihak juga secara bersama-sama akan memperbaiki aturan investasi menjadi lebih transparan dan kondusif demi peningkatan arus investasi. Selain itu hal terpenting lainnya adalah ASEAN dan China sepakat untuk saling memberikan perlindungan investasi. Kegiatan sosialisasi ini akan memaparkan kebijakan, peraturan, ketentuan, dan prosedur investasi. Satu hal lagi yang sangat penting, kedua pihak sepakat mendirikan one stop centre untuk memberikan jasa konsultasi bagi sektor bisnis termasuk fasilitasi pengajuan perijinan Dari sudut pandang investor, Persetujuan Investasi ASEAN – China memberikan berbagai manfaat nyata seperti: (i) jaminan perlakuan yang sama untuk penanam modal asal China ataupun ASEAN antara lain dalam hal manajemen, operasi, likuidasi; (ii) pedoman yang jelas mengenai ekspropriasi, kompensasi kerugian dan transfer serta repatriasi keuntungan; (iii) kesetaraan untuk perlindungan investasi dalam hal prosedur hukum dan administratif. Apabila terjadi sengketa yang muncul antar investor dan salah satu pihak, persetujuan ini memberikan mekanisme penyelesaian yang spesifik disamping adanya kesepakatan semua pihak untuk terus berupaya menjamin perlakuan yang sama atau non-diskriminatif.

L. KERJASAMA EKONOMI
Didalam Framework Agreement on Comprehensive Economic Cooperation between the ASEAN and People’s Republic of China, kedua pihak sepakat akan melakukan kerjasama yang lebih intensif dibeberapa bidang seperti : Pertanian; Teknologi Informasi; Pengembangan SDM; Investasi; Pengembangan Sungai Mekong; Perbankan; Keuangan; Transportasi; Industri; Telekomunikasi; Pertambangan; Energi; Perikanan; Kehutanan; Produk-Produk Hutan dan sebagainya. Pemerintah China telah mengalokasikan dana sebesar USD 10 miliar dibawah China ASEAN Investment Cooperation Fund untuk membiayai proyek-proyek kerjasama investasi utama seperti infrastruktur, energi dan sumberdaya, teknologi komunikasi dan informasi dan bidang-bidang lainnya sekaligus menyediakan fasilitas kredit sebesar USD 15 juta untuk mendukung proses integrasi ASEAN dan kerjasama ekonomi dibawah ACFTA untuk lima tahun kedepan.
Pebruari 2010
Direktorat Kerjasama Regional
Ditjen Kerjasama Perdagangan Internasional

Kesimpulan
AFTA ASEAN-China adalah bentuk dari Free Trade Area di kawasan Asia Tenggara dan China merupakan kerjasama regional dalam bidang ekonomi mempunyai tujuan untuk meningkatkan volume perdagangan di antara negara anggota melalui penurunan tarif beberapa komoditas tertentu, termasuk di dalamnya beberapa komoditas pertanian, dengan tarif mendekati 0-5 persen. Inti AFTA ASEAN-China adalah CEPT (Common Effective Preferential Tariff), yakni barang-barang yang diproduksi di antara negara ASEAN dan China yang memenuhi ketentuan setidak-tidaknya 40 % kandungan lokal akan dikenai tarif hanya 0-5 %.

Indonesia sebagai Negara yang menyetujui AFTA ASEAN-China, yang sudah masuk ke dalam era perdagangan bebas, sehingga bangsa ini bersaing dengan bangsa-bangsa ASEAN lainnya dan juga China. Dengan kondisi bangsa Indonesia dan perekonomian Indonesia saat ini, Indonesia dapat dikatakan masih belum siap dalam menghadapi persaingan global. Sumber daya manusia Indonesia dengan masih banyaknya masyarakat dengan tingkat pendidikan dan keahlian yang minim membuat Indonesia diprediksikan akan kalah dalam persaingan. Situasi politik dan hukum di Indonesia yang amat sangat tidak pasti juga menambah jumlah nilai minus Indonesia dalam menghadapi AFTA ASEAN-China. Seperti; banyaknya industri yang gulung tikar karena tidak mampu bersaing yang menyebabkan phk dan pengangguran berdampak pada pendapatan perkapita masyarakat dan secara tidak langsung mempengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional.

Walaupun terdapat dampak negatif dari AFTA ASEAN-China. Indonesia juga diuntungkan dengan melakukan free export ke negara-negara ASEAN dan China, Seperti; minyak kelapa sawit, tekstil, alat-alat listrik, gas alam, sepatu, dan garmen. Selain itu juga, kita bisa meningkatkan investasi lokal yang secara tidak langsung dapat meningkatkan tenaga kerja dan mengurangi pengangguran dengan berdirinya produk-produk baru.

Kesimpulan
Dari pembahasan mengenai perdagangan bebas ASEAN-China tersebut dapat disimpulkan bahwa :
  1.  Perdagangan bebas antara ASEAN-China lebih banyak memberikan dampak negative bagi perekonomian Indonesia, Dan ini secara langsung berdampak pada para pelaku usaha.
  2. Membanjirnya produk dari China dengan harga yang terjangkau dan tentu kualitasnya tidak berbeda dengan produk local, maka masyarakat kita lebih memilih produk impor dari china daripada produk local, hal ini meresahkan para pelaku usaha industri kecil menengah (IKM) karena dikhawatirkan produknya tidak laku di negara sendiri.
  3. Melihat kondisi pendapatan masyarakat, tentu merupakan kegembiraan tersendiri dengan adanya produk murah asal China. Masyarakat dengan mudah bisa membeli barang-barang murah sesuai kemampuan kantong masyarakat ketimbang produk buatan dalam negeri yang relatif lebih mahal.
  4. Kebijakan CAFTA perlu dikaji ulang oleh pemerintah supaya dampaknya tidak mengancam keselamatan industri dalam negeri.
  5. Kebijakan tersebut perlu diarahkan pada perbaikan ekonomi rakyat, guna menciptakan masyarakat makmur dan sejahtera, sehingga perdagangan bebas ASEAN-China juga dapat memberikan dampak positif bagi para pelaku usaha dan perekonomian Indonesia.
  6. terbukanya semua pintu pelabuhan di Indonesia membuat produk impor khususnya dari china gampang beredar luas ke pasar local.

Sumber :


Rabu, 19 Maret 2014

tugas softskill pertama akuntansi internasional


Nama   : Nur susilawati
NPM   : 29210584
Kelas   : 4eb23

AKUNTANSI INTERNASIONAL
KURS JUAL DAN KURS BELI

Pengertian kurs jual dan kurs beli
a.       Kurs jual, yaitu kurs yang digunakan apabila bank atau money changer menjual valuta asing atau apabila kita akan menukarkan rupiah dengan valuta asing yang kita butuhkan. Atau dapat disingkat kurs jual adalah harga jual mata uang valuta asing oleh bank atau money changer.
b.      Kurs beli, yaitu kurs yang digunakan apabila bank atau money changer membeli valuta asing atau apabila kita akan menukarkan valuta asing yang kita miliki dengan rupiah. Atau dapat diartikan sebagai kurs yang diberlakukan bank jika melakukan pembelian mata uang valuta asing.

Contoh soal
1.      Cica tiba dijakarta dengan membawa 22.000 poundsterling. Saat cica ingin membeli sepatu dengan harga Rp.630.000. Berapa poundstreling yang dibutuhkan cica?

Kurs jual  = 18.867,57
Kurs beli  = 18.680,06
Jawab :
630.000/ 18.867,57 = 33,391
Jadi cica membutuhkan 33,391 poundstreling untuk membeli sepatu
2.      Riska sedang berlibur dijepang, ia membawa uang sebesar Rp. 20.000.000. ia akan membayar penginapan sebesar 700 yen. Berapakah rupiah yang harus dikeluarkan riska untuk membayar penginapan?

Kurs jual  = 11.140,81
Kurs beli  = 11.027,50
Jawab :
700 x 11.027,50 = Rp. 7.719.250
Jadi riska membutuhkan uang sebesar Rp. 7.719.250 untuk membayar penginapan.

3.      Apy ingin membeli laptop dengan harga 400 CAD. Berapa rupiah yang diperlukan apy untuk membeli laptop?

Kurs jual  = 10.261,56
Kurs beli  = 10.153,76
Jawab :
400 x 10.261,56 = Rp. 4.104.624

Jadi apy membutuhkan Rp. 4.104.624 untuk membeli laptop

4.      Mba joya menjual rumahnya seharga 100.000 AUD, apabila mba joya ingin menukarkan uang hasil penjualan rumahnya divaluta asing, berapa rupiah kah yang diterima mba joya?

Kurs jual  = 10.303,97
Kurs beli  = 10.199,94
Jawab :
100.000 x 10.199,94 = Rp. 1.019.994.000
Jadi mba joya mendapatkan uang sebesar Rp. 1.019.994.000 dari penjualan rumahnya.

5.      Visca akan berlibur ke paris. Ia ingin menukarkan uang sebesar Rp. 60.000.000 ke dalam euro. Berapa euro  yang didapat visca untuk berlibur?

Kurs jual  = 15.797,24
Kurs beli  = 15.640,06
Jawab :
Rp. 60.000.000/ 15.797,24 = 3.798,13
Jadi visca membawa uang sebesar 3.798,13 EUR untuk berlibur keparis.



6.      Yasmin yang sedang berlibur diindonesia, dia ingin membeli makanan disalah satu restoran Indonesia, dan dia harus menukarkan 700 yuan yang ia miliki kedalam rupiah. Berapa rupiahkah yang didapatkan yasmin?

Kurs jual  = 1.848,36
Kurs beli  = 1.830,10
Jawab :
Rp. 300 x 1.830,10=  Rp 549.030
Jadi yasmin mendapatkan uang Rp 549.030 untuk membayar makanannya.

7.      Sebelum kembali ke Negara asalnya, nanda ingin menukarkan uangnya terlebih dahulu sebesar 800 riyal untuk membeli oleh-oleh kedalam rupiah. Berapa rupiah kah yang didapatkan nanda?

Kurs jual  = 3.023,31
Kurs beli  = 2.993,20
Jawab :
Rp. 800 x 2.993,20 = Rp 2.394.560
Jadi nanda mendapatkan uang sebesar Rp 2.394.560 untuk membeli oleh-oleh.

8.      Gugun mendapatkan uang dari pamannya sebesar 1.000 HKD. Lalu ia ingin membeli kemeja seharga Rp. 450.000. berapa HKD yang dibutuhkan gugun?

Kurs jual  = 1.460,03
Kurs beli  = 1.445,51
Jawab :
Rp. 450.000 / 1.460,03 = 308,21
Jadi gugun membutuhkan uang sebesar 308,21 HKD  untuk membeli kemeja.


9.      Ibnu ingin menukarkan uang yang ia miliki sebesar 500 NZD kedalam rupiah, berapa rupiah yang akan didapatkan ibnu?

Kurs jual  = 9.716,67
Kurs beli  = 9.613,95
Jawab :
Rp. 500 x 9.613,95 = Rp 4.806.975
Jadi ibnu mendapatkan uang sebesar Rp 4.806.975


10.  Uti memiliki uang sebesar Rp. 54.000.000 untuk berlibur ke swiss. Ia harus menukarkan uangnya terlebih dahulu kedalam CHF, berapa CHF yang didapatkan Uti?

Kurs jual  = 12.991,86
Kurs beli  = 12.857,63
Jawab :
Rp. 54.000.000 / 12.991,86 = 4.156,449
Jadi Uti mendapatkan 4.156,449 untuk berlibur ke swiss.

Referensi :

Rabu, 27 Maret 2013

artikel promotion

 
Nama    : Nur susilawati
Npm      : 29210584
Kelas     : 3eb23

Promotion
Promotion is a form of corporate communication that uses various methods to reach a targeted audience with a certain message in order to achieve specific organizational objectives. Nearly all organizations, whether for-profit or not-for-profit, in all types of industries, must engage in some form of promotion. Such efforts may range from multinational firms spending large sums on securing high-profile celebrities to serve as corporate spokespersons to the owner of a one-person enterprise passing out business cards at a local businessperson’s meeting.

Like most marketing decisions, an effective promotional strategy requires the marketer understand how promotion fits with other pieces of the marketing puzzle (e.g., product, distribution, pricing, target markets). Consequently, promotion decisions should be made with an appreciation for how it affects other areas of the company. For instance, running a major advertising campaign for a new product without first assuring there will be enough inventory to meet potential demand generated by the advertising would certainly not go over well with the company’s production department (not to mention other key company executives). Thus, marketers should not work in a vacuum when making promotion decisions. Rather, the overall success of a promotional strategy requires input from others in impacted functional areas.

In addition to coordinating general promotion decisions with other business areas, individual promotions must also work together. Under the concept of Integrated Marketing Communication marketers attempt to develop a unified promotional strategy involving the coordination of many different types of promotional techniques. The key idea for the marketer who employs several promotional options (we’ll discuss potential options later in this tutorial) to reach objectives for the product is to employ a consistent message across all options. For instance, salespeople will discuss the same benefits of a product as mentioned in television advertisements. In this way no matter how customers are exposed to a

Sales  promotion
Sales promotion is the process of persuading a potential customer to buy the product.  Sales promotion is designed to be used as a short-term tactic to boost sales – it is not really designed to build long-term customer loyalty.
Some sales promotions are aimed at consumers.  Others are targeted at intermediaries (such as agents and wholesalers) or at the firm’s sales force.
When undertaking a sales promotion, there are several factors that a business must take into account:
  • What does the promotion cost – will the resulting sales boost justify the investment?
  • Is the sales promotion consistent with the brand image?  A promotion that heavily discounts a product with a premium price might do some long-term damage to a brand
  • Will the sales promotion attract customers who will continue to buy the product once the promotion ends, or will it simply attract those customers who are always on the look-out for a bargain?
There are many methods of sales promotion, including:
  • Money off coupons – customers receive coupons, or cut coupons out of newspapers or a products packaging that enables them to buy the product next time at a reduced price
  • Competitions – buying the product will allow the customer to take part in a chance to win a prize
  • Discount vouchers – a voucher (like a money off coupon)
  • Free gifts – a free product when buy another product
  • Point of sale materials – e.g. posters, display stands – ways of presenting the product in its best way or show the customer that the product is there.
  • Loyalty cards – e.g. Nectar and Air Miles; where customers earn points for buying certain goods or shopping at certain retailers – that can later be exchanged for money, goods or other offers
Loyalty cards have recently become an important form of sales promotion.  They encourage the customer to return to the retailer by giving them discounts based on the spending from a previous visit. Loyalty cards can offset the discounts they offer by making more sales and persuading the customer to come back.  They also provide information about the shopping habits of customers – where do they shop, when and what do they buy?  This is very valuable marketing research and can be used in the planning process for new and existing products.

Kinds of promotin
Ø Coupons and Pieces
Coupons are promotional tools used most often by

national brand companies and are considered as the main road (by the store or the company) to offer a discount on the product concerned. Coupons issued by companies that give discounts on the products.

Ø Contests and Sweepstakes

Contests and sweepstakes offered to consumers who meet kualfikasi for an interesting gift if they buy some products or participating in several events. Gifts can be spending package, vacation packages and more.

Ø Sample Sample and Demonstration

Examples samples and demonstrations are included in the category but is also considered a sales promotion. It's important to consider the selection of products that will be successful for exemplary sample. - Product sampling. Promotion to consumers where a small portion of the product provided free of charge or at a minimal price to attract consumers to try the product.
·        Demonstration. Promotional methods using employees trained or professional protesters demonstrate how to set up or use a product.

·        Examples of products and demonstrations can provide positive feedback for the company or store. Not just an example of the product adds a wide range of consumer shopping experience, but also has a lot of influence to the buying habits of consumers.

·        The best time to give an example of the samples or demonstrate a product is on days like Saturday and Sunday off. The recipe for the product may stimulate and increase sales.


Ø Tie-In Promotions

Cents-Off Tie-In iallah method of displaying a variety of products related to the impulse purchase of essential goods or goods with extra stuff. Cents-Off iallah a piece that can be shaped coupons or advertising of the product itself.

Ø Premiums or Bonus

Bonus iallah usually offered at a certain period. usually products that are bought without thinking long and too quickly lost appeal.

Ø Promotion of Sustainable sustainable or Promotion

Sustainable Promotion is accessed factor in trading and is designed to build a sustainable store visits.

Ø  Theme or Event Promotion Sepesial

Themes or promotional event sepesial usually held by holiday, season, season events; holidays or Christmas. Even companies such as birthdays or stores can also be used as the theme for the campaign.




Why do we need promotion?
The importance of promotion in an attempt to be something vital in the midst of a similar business competition or substitutes (substitutes; jagungpun be cut no rice). Because how else consumers should at least try to know what you, the hope of the future he can be a loyal customer.
promotion has an important role in all fields, such as business, jobs, health, advertising. that's why we need a promotion.
people won't purchase what you're selling unless they know about it. promotions are key to generating awareness of who you are and what you're selling.

          Past tense
1.     Sales promotion is designed to be used as a short-term tactic to boost sales
2.     They encourage the customer to return to the retailer by giving them discounts based on the spending from a previous visit.
3.     Contests and sweepstakes offered to consumers who meet kualfikasi
4.     a small portion of the product provided free of charge or at a minimal price
5.     Promotional methods using employees trained or professional
6.     Cents-Off iallah a piece that can be shaped coupons or advertising of the product itself.
7.     Sustainable Promotion is accessed factor in trading and is designed to build a sustainable store visits.
8.     salespeople will discuss the same benefits of a product as mentioned in television advertisements.
9.     Others are targeted at intermediaries (such as agents and wholesalers)
10.            running a major advertising campaign for a new product without first assuring there will be enough inventory to meet potential demand generated by the advertising would certainly not go over well with the company’s production department (not to mention other key company executives)



present tense
1.     serve as corporate spokespersons to the owner of a one-person enterprise passing out business cards at a local businessperson’s meeting.
2.     In addition to coordinating general promotion decisions with other business areas, individual promotions must also work together.
3.  Sales promotion is the process of persuading a potential customer to buy the product
4.     Gifts can be spending package, vacation packages and more.
5.  usually products that are bought without thinking long and too quickly lost appeal
6.     promotions are key to generating awareness of who you are and what you're selling
7.     Such efforts may range from multinational firms spending large sums on securing high-profile celebrities
8.   Like most marketing decisions, an effective promotional strategy requires the marketer understand how promotion fits with other pieces of the marketing puzzle
9.   Point of sale materials – e.g. posters, display stands – ways of presenting the product in its best way or show the customer that the product is there
10.                        the customer to return to the retailer by giving them discounts based on the spending from a previous visit.